“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”
(Q.S Al Ahqaaf:15)
Beberapa waktu lalu saya pernah membuat tulisan berjudul, “Merawat Orang Tua“. Saya mencoba untuk menyambungnya dengan tulisan ini. Meski secara jelas sudah banyak ayat Al Quran yang menerangkan perintah Allah tentang kewajiban berbuat baik kepada orang tua, namun pada praktiknya kita, orang-orang dewasa, sering lupa atau menganggapnya remeh saja. Ada banyak ayat yang menukil perintah Allah ini, di antaranya: Q.S Al Israa’:23, An Nisaa: 36, Al Baqarah:83, Al ‘Ankabut:8, Luqman:14, Al-An’am:151.
Pertanyaan kritis sempat terlontar dari pikiran saya, mengapa Allah memerintahkan manusia untuk berbuat baik pada orang tuanya hingga beberapa kali dalam kitab-Nya yang suci? Bahkan dalam salah satu ayat, setelah perintah untuk beriman kepada Allah, perintah berbuat ahsan kepada orang tua digandengkan setelahnya, seolah mengisyaratkan betapa pentingnya amalan tersebut.
Sebenarnya hal itu sudah terjawab dalam surat Al Ahqaaf ayat 15 yang saya kutipkan di awal tulisan ini. Dan ketika kita mengaku beriman kepada Allah dan mengaku diri sebagai seorang mukmin, tanpa harus berkilah lagi kita sudah selayaknya mengimani dan mempraktikkan perintah tersebut.
Orang tua adalah manifestasi karunia Allah kepada anak manusia. Melalui orang tualah manusia dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya sehingga mampu berdiri tegak menghadapi hidup. Melalui orang tualah manusia terlahir ke bumi ini dan menikmati berbagai “fasilitas” kehidupan yang Allah ciptakan. Ketika seorang anak berkhidmat pada orang tuanya, hakikatnya ia sedang berterima kasih kepada Allah. Bukankah Ia berfirman, “…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu,…” (Q.S Al Qashash:77)
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(Q.S Ibrahim:7)
Akan tetapi, berkhidmat (berbuat baik) kepada orang tua itu tidaklah mudah. Mengapa? Karena ketika orang tua membutuhkan uluran bantuan kita, pada umumnya di saat yang sama kita juga sedang berada pada usia-usia produktif, sedang bergelut dengan persoalan hidup kita sendiri. Bagi yang sudah menikah, ya sibuk dengan urusan rumah tangga dan anak-anaknya, dan bagi yang belum menikah sibuk dengan karirnya masing-masing.
Panggilan untuk berkhidmat pada orang tua biasanya datang pada saat usia mereka makin tua, semakin ringkih tubuhnya, semakin banyak jenis penyakitnya. Mereka butuh untuk dilayani: diantar berobat, dikunjungi, dihibur, serta dipenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya, makanannya, obat-obatannya. Saat semua kondisi itu berbenturan dengan waktu kita beraktivitas, hal itu menyebabkan kita dihadapkan pada situasi harus memilih, pada situasi harus berkorban, pada situasi harus merelakan banyak hal yang menurut kita penting dan lebih menyenangkan.
Berkhidmat pada orang tua pada faktanya tidaklah mudah. Kita membutuhkan berkarung-karung kesabaran dan kekuatan batin. Karena itulah, sudah semestinya kita memohon kekuatan kepada Allah SWT. Tanpa limpahan kekuatan dari-Nya kebanyakan manusia tidak lulus dalam menjalankan ‘tugas’ mulia ini.
Saya berkesimpulan, berbuat ihsan pada orang tua BUKANLAH amalan biasa, melainkan jihad besar bagi seorang mukmin. Berat timbangan kebaikannya, berat pula sanksinya ( di dunia dan akhirat) ketika kita melepaskan tanggung jawab itu. Wallahualam bishawwab.
Semoga Allah SWT melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua, mengilhamkan pada hati kita perasaan kasih sayang terhadap orang tua, sehingga kita mampu berkhidmat pada mereka dengan sebaik-baiknya. Amin.